22 March, 2009

2. Cita-cita SUMEDHA untuk menjadi BUDDHA MAHATAHU Part A
By Bhikkhu Kusaladhamma

Dengan kepiawaianku dalam keyakinan, daya, dan kebijaksanaan, aku akan mengerahkan usaha sebaik mungkin untuk menjadi Buddha Mahatahu dan membebaskan segenap makhluk dari lingkaran kelahiran, samudra penderitaan ini.
Setelah berhasil dalam praktik tapanya, Petapa Sumedha melewatkan waktunya di dalam hutan dengan menikmati kebahagiaan jhāna. Ia sama sekali tidak menyadari kemunculan Buddha Dīpankara di dunia ini.
Pada suatu hari, Buddha Dīpankara, diiringi oleh empat ratus ribu Arahant, datang ke Kota Rammavatī dan tinggal di Wihara Sudassana. Pada kesempatan yang penuh berkah tersebut, warga Rammavatī mengunjungi Yang Terberkahi serta mengundang-Nya berserta para siswa untuk menerima dana makanan esok hari. Kemudian, mereka melakukan persiapan yang diperlukan seperti membersihkan dan menghiasi kota itu. Mereka juga memperbaiki jalan yang akan dilintasi oleh Yang Terberkahi dan para siswa-Nya menuju kota itu. Mereka menambal lubang jalan dengan tanah, memperbaiki kerusakan akibat banjir, meratakan tanah berlumpur yang tidak rata, dan melapisi jalanan dengan pasir putih bak mutiara.
Pada waktu itu, Petapa Sumedha tengah melayang di udara dari tempat pertapaannya. Tatkala menempuh perjalanan udara, ia melihat warga Rammavatī tengah memperbaiki jalan dan menghiasi kota dengan riang gembira. Terdorong keinginan mengetahui apa yang sedang terjadi di bawah sana, ia turun dan berdiri di tempat yang sesuai. Lalu ia bertanya:“Kalian sedang memperbaiki jalan dengan begitu riang gembira dan bersemangat. Untuk siapakah kalian memperbaiki jalan?”
Para warga menjawab:“O Petapa Sumedha, telah muncul di dunia ini Buddha Mahatahu Dīpankara, yang telah menundukkan kelima kekuatan jahat Mara; Ialah Yang Mahasuci di segenap dunia. Kami memperbaiki jalan ini untuk-Nya.”
Begitu Petapa Sumedha mendengar kata “Buddha”, hatinya dipenuhi sukacita. Terpikir olehnya:“Sesungguhnya, sangat jarang dan sulit munculnya sesosok Buddha di dunia ini. Alangkah beruntungnya jika aku dapat melayani Yang Terberkahi. Inilah waktu yang tepat bagiku untuk menanam benih jasa luhur di ladang yang subur, yaitu Buddha Dīpankara ini.”
Ia lalu memohon:“O Para Warga, sisihkanlah bagi saya sepenggal jalan ini! Saya ingin turut serta memperbaiki jalan untuk menyambut kunjungan Yang Terberkahi.”
“Baiklah,” kata para warga. Mereka lalu menyisihkan sebagian besar jalan yang berlumpur, tidak rata, dan sulit diperbaiki. Para warga beranggapan bahwa perbaikan itu akan mudah bagi sang petapa yang memiliki kesaktian tinggi.
Lalu Petapa Sumedha berpikir:“Aku bisa saja mengerahkan kesaktianku untuk memperbaiki jalan ini dengan mudah, namun jika ini kulakukan, para warga mungkin tidak akan terlalu menaruh hormat. Sebaiknya aku melakukan kewajibanku hanya dengan tenaga jasmaniku saja.”
Bersambung ....

No comments:

Post a Comment